PERJALANAN PANJANG MERUNTUHKAN OPTIMISME NAIF

Sumber: jd.id

Judul: Candide 
Judul Asli: Candide Ou I’Optimisme 
Penulis: Voltaire  
Penerjemah: Widya Mahardika Putra  
Penerbit: DIVA Press  
ISBN: 978-602-391-734-1  
Tebal: 204 halaman  
Tahun terbit: Agustus 2019  
Cetakan: Pertama 

Membaca Candide saya teringat dengan cerpen Anton Chekov, Ruang Inap No. 6, yang bercerita tentang seorang dokter bernama Andrei Yefimich, seorang penganut Stoikisme. Ia ditugaskan di rumah sakit jiwa yang akhirnya menjadi tempatnya hingga akhir hayat. Ia pintar dan banyak mendalami filsafat, namun naïf dalam memandang dunia karena kesengsaraan tak pernah ia rasakan sampai titik tak tertahankan. Demikianlah akunya ketika ditanyai oleh Ivan Dmitrich, seorang pengidap paranoid yang tanpa disadarinya sering ia rendahkan dalam persoalan pandangan hidup. Namun, setelah melalui bergabai peristiwa dalam hidupnya ia mulai menanggalkan stoikisme sebagai pedoman hidup. Hal serupa ditemukan pada Candide yang menjalani hidupnya sampai usia muda di dalam cangkang mewah istana seorang Baron, yang secara bertahap juga kehilangan pijakan pada keyakinannya. 
Novel Candide karya Francois-Marie Arouet, yang kemudian masyhur dengan nama pena Voltaire, Pertama kali terbit di Jenewa, Swiss, dalam bahasa Prancis pada 1759.  Judul asli novel ini adalah Candide Ou I’Optimisme. Seperti karya Voltaire lainnya, Candide pun di sini kentara dengan unsur satire. Melalui Candide, ia menyerang prinsip-prinsip dalam pemikiran filsuf Jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), seperti principium rationis sufficientis, prinsip cukup alasan, bahwa segala hal pasti memiliki suatu alasan yang mencukupi. Sebuah prinsip yang diyakini oleh Cunegonde, putri Tuan Baron Thunder-ten-tronckh di wilayah Westfalia, tentang hubungannya dengan pemuda berjiwa mulia lagi bersahaja dan berbudi pekerti amat baik yang memungkinkannya mampu menimbang segala persoalan dengan adil, Candide.  
Pada beberapa bagian Voltaire juga menyindir unsur klenik jimat yang dipercayai umumnya oleh masyarakat budak yang mencari keselamatan sia-sia darinya; watak khas bangsa dan golongan, bahwa Belanda terkenal pelit dan mengejar kekayaan duniawi; gubernur sebagai representasi kelas elite yang angkuh; dan status kebangsawanan yang dapat menggagalkan pernikahan apabila ternyata terbukti salah satu pasangan bukan dari golongan bangsawan. Bagi saya, yang paling penting di sini adalah Voltaire mendorong para filsuf untuk tidak sebatas berpikir dan berdiskusi, melainkan aktif dalam mewujudkan dunia yang lebih baik. 
Dalam spektrum filsafat, Leibniz–di sini diwakili oleh tokoh Pangloss, seorang guru istana–dikenal sebagai pengusung aliran optimisme. Aliran inilah yang sepanjang cerita diporak-porandakan oleh Voltaire. Dimulai dengan peristiwa ciuman polos yang dilancarkan Candide terhadap Cunegonde, yang disaksikan langsung oleh Tuan Baron, dan berakibat diusirnya Candide dari istana dengan tendangan di bokong oleh Tuan Baron sendiri.  Setelah diusir dari istana, Candide mulai menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa dunia yang digambarkan oleh Pangloss bahwa “… segala hal di dunia ini adalah yang sebaik-baiknya” (hal. 10), berlainan sama sekali. Bukan hanya menyaksikan wajah dunia yang kejam, Candide sendiri menjumpai dirinya diperlakukan secara kejam. Kekejaman pertamanya diperoleh dari prajurit Bulgaria. 
Di Bulgaria Candide bertemu kembali dengan gurunya yang hidup terlunta-lunta mengenakan pakaian lusuh dan mengemis. Dari gurunya ia tahu bahwa istana Thunder-ten-tronckh telah diserang pasukan Bulgaria dan Tuan Baron berserta istri juga Cunegonde dan kakak laki-lakinya ikut terbunuh. Optimisme Candide sempat redup, namun ketika ia bertemu kembali dengan Cunegonde di Belanda, ia tak lagi pesimis.  
Runtuhnya optimisme Candide secara tragis dimulai sejak ia melakukan perjalanan bersama pelayannya, Cacambo. Mereka bertemu seorang budak kulit hitam bercelana biru pendek yang kaki kiri dan tangan kanannya telah dipotong majikannya. “O Pangloss!” seru Candide, “Kau pasti tak akan pernah menyangka bahwa kekejian seperti ini terjadi di bumi; cukup sudah, aku tak akan lagi percaya dengan optimismemu!” (hal. 113). Untuk melanjutkan tragedi keruntuhan optimisme itu agar tetap mencekam, Voltaire merasa perlu menghadirkan tokoh penyangkal supaya optimisme tak lagi bernafas dalam diri Candide dengan menciptakan seorang penganut Maniisme bernama Martin. 
Inti dari alur cerita Candide selama perjalanannya mengarungi lautan (Jerman – Bulgaria – Portugal – Venezia – Paraguay – Venezuela – El Dorado – Suriname – Amerika – Belanda – Prancis – dan Istanbul) adalah perjuangannya menemukan Cunegonde, satu-satunya perempuan yang pernah dicintainya. Ia adalah perempuan yang menyeruakkan sisi kejam pemuda Candide yang berbudi pekerti luhur. Akhirnya, karena motif cemburu, ia melakukan pembunuhan  untuk menjamin keselamatan Cunegonde.  
Setelah terpaksa berpisah karena Cunegonde diambil oleh gubernur Buenos Aires, Candide mengutus Cacambo untuk menyusulnya dan berjanji akan membawanya ke Venezia, tempat mereka akan bertemu dan bebahagia. Namun, alih-alih bahagia setelah bertemu Cacambo di Venezia, Candide malah dirundung kesedihan karena ternyata Cunegonde tidak bersama Cacambo di Venezia, melainkan di Istanbul. 
Ketika tiba di Istanbul, Candide bertemu dengan Cunegonde yang rupanya tidak lagi seperti rupa ketika terakhir kali mereka bersama. Candide tak lagi cinta menggebu-gebu pada Cunegonde, namun kelancangan Pangeran Baron yang tidak menyetujui bahkan melecehkan Candide akhirnya mendorong Candide untuk tetap menikahi Cunegonde. Akhirnya mereka hidup dengan menggarap lahan pertanian sambil tidak meninggalkan kebiasaan berdiskusi mereka yang itu-itu saja hingga suatu ketika pertanyaan perempuan tua pelayan Cunegonde memunculkan berbagai pemikiran baru: 
“Aku ingin tahu mana yang lebih menyengsarakan: diperkosa seratus kali oleh bajak laut kulit hitam, hanya punya satu bokong, dihukum gauntlet oleh prajurit Bulgaria,  dicambuk dan digantung  di sebuah auto-da-fe, dibedah, dipaksa mendayung–singkatnya, mengalami segala penderitaan yang telah kita alami, atau tinggal di sini dengan tidak melakukan apa-apa?” (hal. 196). 
Pertanyaan ini seolah menampar mereka semua. Hingga akhir cerita Pangloss yang tetap berusaha meyakinkan dirinya akan optimisme walaupun ia sendiri sudah tidak memercayainya, disanggah oleh Candide dengan mengatakan, “Kau benar,” balas Candide, “tapi kita harus menggarap kebun kita.” (hal. 202). Dengan demikian optimisme yang selalu dijaga kelestariannya oleh Candide tampak naïf untuk tetap diyakini di dunia yang penuh kekejian. (*)

Komentar