BELAJAR TABAH DAN MEMAHAMI UNIKNYA IBUKOTA

Sumber: www.kaskus.co.id
Seperti itulah adanya. Jalanan Jakarta ibarat Bangkok yang masih magang. Apakah kita patut bersyukur? Boleh saja, mengutuk pun juga dipersilakan. Mengapa saya menggunakan Bangkok sebagai perbandingan? Menjadikan Bangkok sebagai perbandingan tak lain karena di sana kita bisa menemukan apa yang tidak (atau belum?) kita temukan di Jakarta: tempat pembuangan air kecil di setiap mobil. Adanya benda tersebut sebagai penanda bahwa kemacetan di sana sudah sampai pada tahap intoleran! 

Bayangkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat, per 2016 saja, jumlah kendaraan di Jakarta berjumlah 18 juta unit. Jumlah itu meningkat 50 persen dibandingkan 2010. Dari jumlah itu, sekitar 76 persen merupakan sepeda motor, sedangkan mobil sekitar 24 persen. Artinya, kepemilikan kendaraan bermotor meningkat secara signifikan sepanjang tahun 2010-2016. Perlu diketahui bahwa angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Mari bersyukur, karena data ini merepresentasikan peningkatan daya beli masyarakat Jakarta, walaupun di lain sisi kita disuguhkan suasana jalanan yang semakin semrawut. Inilah kota kosmopolitan yang sedang merangkak mem-Bangkok-kan diri. 

Jika sedang berkendara dan terjebak kemacetan yang menyebabkan hasrat ingin melaju kencang menyublim angan-angan pada pukul 07.00 WIB, akan tampak manusia Jakarta dalam tampilannya yang paling khas: sepasang kekasih–kadang bersama anak-anak mereka–di balik kaca mobil itu sedang melangsungkan adegan sulap, membius penonton sehingga tetap merasa seakan masih berada di depan rumah tetangga. Di sisi stir ada suami yang disibukkan oleh pesan whatsapp–dalam taraf tertentu lebih mirip teror ketimbang informasi–dari rekan kantor yang memberondong gawai, di sampingnya ada istri yang sedang menekuni meja rias, berusaha keras menghentikan waktu yang menyebabkan pemunculan garis penuaan dan noda jerawat di wajah menggunakan seperangkat alat rias kemasan ringkas. 

Ketika dihadang lampu merah di persimpangan, pengendara akan dipersembahkan suatu kontradiksi: penjaja segala macam makanan dan minuman, koran, dan pernak-pernik lainnya, melesat perekonomiannya tersebab kemacetan. Kelangsungan hidup mereka sangat bergantung pada kemacetan, sebab dalam suasana macet inilah rupiah akan berpindah ke tangan mereka. Inilah Jakarta, kota yang bertumbuh dalam kemacetannya. 

Pada suatu hari ketika ibukota sedang mengalami kenaikan suhu sejadi-jadinya, pengendara akan dibuat kesal dan bertanya-tanya. Pasalnya, dari kejauhan terdengar suara sirine melengking merobek kulit kepala, dengan dikomandoi oleh seseorang yang mengibarkan bendera kuning, ngotot memaksa sekumpulan Homo Jakartensis lainnya untuk meminggirkan kendaraan. 

Pengibar bendera dan mereka yang ‘mengekor’ di belakangnya tak pernah peduli dengan suasana hati pengguna jalan lainnya. Lebih lagi, si pengibar bendera mengabaikan keberadaan polisi lalu lintas dengan segala otoritasnya di jalan raya yang memang merupakan teritorial kekuasaannya. Mereka tetap melaju, sedangkan yang ‘terpinggirkan’ harus bersabar dan merelakan kesialannya. 

Antrean rombongan itu selalu menghadirkan kesangsian bagi para penontonnya, sebab jejeran kendaraan yang mengekor selalu tak bisa diterima sebagai sebuah kewajaran. Itulah mereka yang memanfaatkan kemalangan orang lain untuk menghindari kemacetan. Dengan demikian, para pengendara yang terpinggirkan itu sebenarnya telah mengalah untuk melancarkan laju kendaraan mereka. Semoga pintu surga selalu terbuka bagi mereka yang tetap ikhlas kehilangan waktu 

***. 

Sepasang kekasih yang “merumahkan” mobil, para penjaja yang mensyukuri kemacetan, dan pengendara yang tertawa di belakang kemalangan orang lain, adalah beberapa dari tak terhitungnya adegan-adegan di pentas negeri Homo Jakartensis. Sebagai manusia rantau dari lain pulau, saya tak pernah akrab dengan kenyataan ini. Di kampung halaman saya, di kaki gunung Kerinci, siapa saja masih bisa berakrobat bergandengan tangan sambil menunggangi sepeda motor di sore hari di jalan raya bersama kekasih dalam siraman lembut matahari keemasan dan belaian manja angin pegunungan. 

Bukan peristiwa ganjil jika terlihat sepasang kekasih di atas tunggangan mereka asyik masyuk mengobrol dan sesekali diselingi tawa tanpa mereka pernah sadari bahwa tepat ketika itu mereka telah menyayat berkali-kali hati para muda-mudi yang terpaksa teguh menjalani hidup sendiri. Dan jika ada yang iseng bertanya pada si Penyendiri tentang doa apakah yang sedang dipanjatkannya, maka ia akan lebih suka menjawab: “semoga laron, serangga, lalar, dan makhluk apa saja yang dapat ditemukan beterbangan di jalanan, memorak-porandakan kegembiraan mereka.” Ia mendoakan semua jenis makhluk yang mustahil ditemukan di sekujur jalanan Jakarta. 

*** 

Masih banyak cerita yang tersimpan di Negeri Homo Jakartensis bagi siapa saja penduduknya yang mau memerhatikannya. Dari cerita tragedi yang paling menegangkan hingga cerita komedi dalam beragam turunannya. Semoga saya akan tetap tabah selama mengikuti tayangan pertunjukan-pertunjukan di panggung Jakarta, pertunjukan yang rumit. Semoga terpahami juga ini negeri. Semoga. (*) 

Komentar