RESENSI BUKU: RENUNGAN KETAKBERDAYAAN MANUSIA



Judul: Blindness 

Judul Asli: Ensaio Sobre a Cegueira 

Penulis: Jose Saramago 

Penerjemah: Tim Matahari 

Penerbit: Matahari 

ISBN: 9786023720453 

Tebal: 488 halaman 

Tahun terbit: November 2015 

Cetakan: Kesatu 



Mari kita bayangkan apa yang terjadi jika manusia modern tanpa dibekali terlebih dahulu semacam pelatihan atau proses penyesuaian secara perlahan, tiba-tiba harus menghadapi kehidupan layaknya peradaban purba. Memang, dalam kasus ini manusia tetap mendiami kota seperti yang kita kenal dengan segala hamparan infrastruktur yang kita akrabi selama ini, hanya saja manusia tak mampu membentuk lembaga yang melebihi sebuah kelompok, layaknya manusia purba yang membentuk lingkaran sosial mereka.  

Dalam peradaban semacam itu tak dikenal lembaga negara, swasta serta turunan-turunannya. Situasi ini dapat dimaklumi selama manusia pendukungnya mampu melihat dengan baik. Namun, akan berbeda situasinya apabila peradaban tersebut tidak memiliki satu mata pun yang mampu melihat. Hanya dengan keberadaan manusia-manusia buta inilah peradaban semacam itu akan menjadi mungkin tercipta di zaman kiwari ini. Sebuah zaman yang menampilkan manusia dengan sifat aslinya. Renungan inilah yang–dalam bayangan saya–dipikirkan oleh Jose Saramago sebelum ia memulai proyek penulisan novelnya: Blindness

Saramago dlam novel tersebut menciptakan sebuah semesta dimana seluruh negara tanpa nama, dihuni oleh manusia yang tanpa nama pula. Ia hanya melabeli tokoh-tokohnya dengan apa yang khas dari masing-masing mereka. Negara imajiner Saramago dilanda wabah kebutaan yang awalnya menimpa seorang pengemudi–yang saya curigai sebagai bukan penduduk asli–, sesaat setelah lampu lalu lintas menyala hijau, ia tiba-tiba mengalami kebutaan. Di kemudian hari wabah ini menyebar ke seluruh negeri, bahkan seorang dokter yang menangani kasus pengemudi malang tersebut tak dapat membentengi dirinya. Wabah ini dalam waktu singkat diumumkan sebagai wabah nasional yang disikapi pemerintah dengan melakukan tindakan pengarantinaan terhadap penderita dan warga yang diduga telah terjangkit wabah tersebut di sebuah bangunan bekas Rumah Sakit Jiwa yang terdiri dari tiga bangsal. 

Dalam masa kekacauan itu seluruh warga menjalani hari-harinya dengan menjadi pengelana, berkeliaran dengan satu misi: bertahan hidup. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari kelompok. Tanpa kelompok, sama saja seseorang mengangakan lubang kematian bagi dirinya. Selanjutnya, berusaha menerbitkan secercah optimisme dalam angan-angannya. Setiap warga berusaha meyakini diri mereka suatu saat kelak–yang masing-masing mereka sebenarnya tidak begitu yakin– akan ditemukan semacam obat, entah sejenis apa, yang dapat mengusir wabah yang dikenal secara luas dengan sebutan penyakit putih ini. 

Mengapa wabah ini dinamakan sebagi penyakit putih? Dalam kasus kebutaan normal penderitanya melihat dunia seakan semuanya hitam kelam, nircahaya. Dalam kasus penyakit putih, para penderitanya malah melihat dunia serba bersih, seolah mata mereka dibanjiri susu–putih pekat dan begitu benderang. “… Kegelapan yang dialami orang buta tidak lebih daripada ketiadaan cahaya belaka, bahwa apa yang kita sebut kebutaan adalah sesuatu yang sekadar menutupi penampakan hal-ihwal dan benda-benda, meninggalkan mereka bulat-bulat di balik cadar hitam mereka” (12-13). Siapa pun yang menderita penyakit kebutaan yang pertama, berpeluang memperoleh keuntungan dalam kerumunan manusia buta ‘pemula’ ini. 

Penderita buta normal satu-satunya di sini terdaftar sebagai penghuni Bangsal Tiga. Ia diangkat menjadi juru catat pemimpin Bangsal Tiga, seorang pemegang satu-satunya senjata api di seantero karantina. Si penderita buta normal berpengalaman menjalani hidup sebagai orang buta, memiliki pengetahuan penggunaan tulisan braile, sehingga ia dipercaya sebagai orang yang mencatat daftar barang-barang yang disetorkan oleh Bangsal Satu dan Bangsal Dua sebagai syarat barter untuk jatah makanan mereka yang dimonopoli.  

Adapun status Bangsal Tiga sebagai penyalur makanan tunggal tidak terlepas dari keberadaan senjata api sebagai representasi tongkat raja. Dalam sejarah kolonialisme, status Bangsal Tiga dapat disamakan dengan keberadaan penjajah di tanah jajahannya. Di sini, bagi siapapun yang memegang senjata api, dengan sendirinya dapat menunjuk dirinya sebagai pemimpin. Survival of the fittest, kalimat yang pertama kali dicetuskan oleh Herbert Spencer, yang diajukan dalam rangka menanggapi teori evolusi Charles Darwin, kiranya sangat jelas di sini. Bagi siapa saja yang ingin mendapat perlindungan dan rasa aman dari kelaparan, dengan hanya mengakui dirinya berada di bawah kepemimpinan pemimpin Bangsal Tiga, maka jaminan tersebut akan ia dapatkan. 

Untuk meyakinkan sidang pembaca, Saramago memunculkan satu bukti yang dapat menjawab keraguan pembaca melalui rangkaian konflik yang berawal dari salah seorang penghuni Bangsal Satu, isteri dokter, satu-satunya yang selamat dari wabah penyakit putih, membatukan niat untuk menghabisi pemimpin Bangsal Tiga. Permulaan konflik digambarkan secara tragis. Setelah tak ada lagi barang berharga untuk ditukarkan dengan makanan, Bangsal Tiga memberi ‘solusi alternatif’ dengan menukar perempuan dengan makanan. 

Mendengar pengumuman–yang lebih cocok disebut ultimatum itu– menjadikan dendam yang membatu dari isteri dokter semakin mengeras. Setelah pada kesempatan pertama rencana pembunuhannya gagal, pada kesempatan berikutnya–ketika para perempuan dari Bangsal Dua sedang mengupayakan terpenuhinya jatah perut semua penghuni bangsalnya–isteri dokter menyelinap dengan bermodalkan sebuah gunting yang memang sengaja dipersiapkannya untuk melunasi dendamnya. 

Setelah menunggu dengan sabar hingga si pemimpin Bangsal Tiga mencapai orgasme, orgasme terakhirnya, isteri dokter lalu menghunjamkan gunting tepat pada tenggorokan lelaki itu. Karena panik, perempuan yang sedang menunaikan kewajibannya di selangkangan lelaki malang itu dengan spontan menggigit penisnya hingga putus–kematian yang sangat tragis memang. Ketika itulah si juru catat tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari senjata api milik lelaki naas itu, agar dapat menjadi pemimpin Bangsal Tiga tanpa melalui prosedur apapun. Sayangnya, masa kepemipinannya tak pernah lepas dari kecaman teror. 

Ketika hari pemberontakan tiba, seorang perempuan dari Bangsal Dua berhasil membakar Bangsal Tiga atas inisiatifnya sendiri yang berakibat binasanya seluruh penghuni Bangsal Tiga, termasuk dirinya sendiri yang mati sebagai martir. Ia menjadi seorang pahlawan tak dikenal hingga akhir cerita. Dalam kehidupan riil, mungkin saja nasib yang menimpa perempuan martir itu memang pernah terjadi. Bahwa banyak orang yang telah menumpahkan darahnya agar kita dapat menikmati kehidupan nyaman dan tenteram di alam merdeka saat ini, tidak pernah tercatat dalam daftar nama-nama pahlawan. Bahkan, dalam beberapa kasus, mungkin benar kata Agus Noor dalam sebuah cerpenya, Matinya Seorang Demonstran, bahwa “pecundang memang sering kali lebih beruntung.” Kalimat ini diucapkan ketika tokoh Ratih membandingkan antara tokoh Eka, seorang demonstran, dan Arman, seorang anak kolong, yang karena kematian Arman di satu jalan kecil, untuk mengenangnya, jalan tersebut dinamai dengan namanya. 

Saat kerusuhan itu tak terkendalikan, isteri dokter segera meminta bantuan kepada tentara yang ditugasi untuk menjaga karantina mereka. Sebab sahut tak berbalas–yang selama ini sering dibalas dengan ancaman tembak di tempat–isteri dokter menjadi curiga dan langsung memastikan situasinya. Ternyata mereka telah ditinggalkan oleh para penjaga.  

Keputusasaan yang merambati seluruh penghuni karantina hingga sampai pada titik hampir tak ada lagi celah untuk sikap optimistik, tiba-tiba lenyap setelah mendengar teriakan “kita bebas!” dari isteri dokter. Ini merupakan semacam sikap optimis yang semu, kalau tak bisa disebut suram. Lingkungan Rumah Sakit Jiwa yang telah menjelma neraka akan digantikan alam lepas kota yang tak lain hanyalah neraka dalam kondisinya yang lebih mengerikan. Sebuah kota tanpa seorang pun dapat menggunakan matanya dengan normal. Sebuah medan survival of the fittest yang lebih luas. 

Kejeniusan seorang Saramago, seperti dipaparkan oleh Eka Kurniawan dalam salah satu tulisannya, bahwa Saramago dalam novel-novelnya selalu seakan-akan mempertanyakan “apa jadinya… jika.” Dalam Blindness, Saramago menjawabnya melalui tokoh isteri dokter, “kalaupun tidak dapat hidup sepenuhnya seperti layaknya manusia, setidaknya marilah kita berusaha agar tak hidup sepenuhnya seperti binatang” (174).  

Kalimat itu tak mungkin terucap jika kehidupan berjalan normal. Itulah seuntai kalimat yang hanya ada dalam sebuah distopia. Sebuah realitas dimana seorang dokter spesialis mata tidak lebih dari sebongkah daging dengan jantung yang selalu mendapat asupan energi dari aliran sirkulasi darah, yang ditopang oleh kerangka belulang belaka, yang tak bisa berbuat apa-apa dengan keahliannya di tengah masyarakat yang memang membutuhkan keahliannya. Adanya si orang buta pertama, isteri orang buta pertama, perempuan berkacamata hitam, pria tua bertampal mata hitam dan si bocah juling, mereka semua sama-sama membutuhkan kehadiran mata isteri dokter sebagai penuntun, sebagaimana sang dokter mata. 

Dengan kejam Saramago merontokkan keangkuhan seorang dokter seperti yang dikhotbahkan Homer dalam Iliad, “harga seorang dokter setara sejumlah orang.” Sebuah keangkuhan yang terkesan sebagai omong kosong belaka. Bahwa seorang dokter spesialis mata selalu membutuhkan uluran tangan dan tuntunan mata dari seseorang yang bahkan tak menguasai ilmu pengetahuan tentang mata. Saramago tak lupa memeragakan keberadaan seorang pastur yang menelanjangi sisi kemanusiaannya. Gambaran seorang insan yang selalu terbuka kemungkinan baginya untuk tenggelam dalam kondisi keputusasaan yang paling ekstrem. 

Keterkejutan seluruh penghuni gereja karena mengetahui semua patung suci di gereja tersebut dalam kondisi mata dibebat kain putih, berkaitan erat dengan tindakan yang telah dilakukan oleh seseorang yang mengenal seluk beluk gereja. Karenanya, yang paling memungkinkan untuk melakukan tindakan di luar nalar ketaatan tersebut hanya sang pastur gereja–seseorang yang mengalami distorsi keyakinan setelah menyadari ketaatannya selama ini tak menjamin ia terbebas dari wabah penyakit yang mengerikan itu. Sampai di sini, tak salah jika kita mendefinisikan dunia tanpa kemampuan melihat adalah neraka yang sengaja diturunkan ke bumi. 

Bagi seorang relijius, neraka-di-bumi ini bisa saja merepresentasikan bentuk hukuman terhadap hamba Tuhan yang selama ini menjalani kehidupan dengan penuh kebohongan. Kini, di neraka-di-bumi ini, mereka dipaksa menjalani hidupnya tanpa kain penutup sifat aslinya yang melekat pada diri masing-masing. “Kau takkan pernah tahu sebelumnya apa yang sanggup dilakukan orang. Kau harus menunggu. Beri waktu. Waktulah yang menentukan. Waktu adalah partner judi kita di sisi lain meja judi dan dia memegang seluruh tumpukan kartu. Kita harus menebak kartu kemenangan hidup, hidup kita” (474). 

Akhirnya, membaca Blindness, puas menyaksikan kegilaan distopianya, kita diajak kembali merenungkan ketakberdayaan manusia untuk hidup sendiri. Bahwa manusia, di sini adalah manusia modern, tak bisa melepaskan dirinya dari para pekerja listrik yang menjamin penerangan kota; pemasok air bersih yang mengusir dahaga dan bau tak sedap pada rumah dan pakaian yang kita kenakan; petugas kebersihan yang mempersembahkan jalanan mulus tanpa sampah sebagai landasan kaki-kaki kita; dan seluruh pihak yang menjadi bagian dari keutuhan hidup bermasyarakat lainnya. 

Satu petuah yang dikutip pada pembukaan novel ini tiba-tiba menjadi sangat berarti untuk direnungkan setelah kita mengkhatamkan novel ini, “jika kau dapat melihat, pandanglah. Jika kau bisa memandang, amatilah” (Buku Petuah). Petuah ini setali tiga uang dengan apa yang dengan tegas disampaikan oleh seorang filsuf hermeneutika, Martin Heidegger, agar kita menjalani kehidupan yang bukan sekadar lalu saja. Untuk itu kita harus berusaha menyingkap setiap tabir yang menyelimuti mistik keseharian. 

07 – 08 November 2019 

Komentar