INTERNASIONAL DI MANA-MANA

Koleksi Pribadi
Seorang aktor yang berprestasi di luar negeri, penyanyi atau penulis yang kerap tampil di panggung negara lain, selalu menjadi sumber berita yang paling dicari media. Berita tentang mereka dianggap mampu meningkatkan rasa bangga sebagai orang Indonesia. Cap "internasional" pun sertamerta melekat pada diri mereka. Aktor internasional, penyanyi internasional, penulis internasional.

Beberapa tahun belakangan, bermunculan banyak acara yang memakai kata "internasional" pada namanya, termasuk acara literasi. Sebutlah Indonesia International Book Fair (IIBF). Label “internasional” seolah untuk menunjukkan kelas dan keakbaran acara tersebut sekaligus membedakannya dengan acara sejenis lainnya. Padahal ajang serupa yang benar-benar berkelas dunia, semacam London Book Fair dan Frankfrut Book Fair, justru tidak menggunakan kata “internasional”. Dalam ranah sastra, gejala serupa juga terjadi. Umpamanya, Jakarta International Literary Festival (JILF) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Gejala apakah ini?

Kata “internasional” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan: "menyangkut bangsa atau negeri seluruh dunia; antarbangsa." Namun fenomena akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kata tersebut telah mengalami perubahan makna dan nilai. Makna kata “internasional” tidak lagi berhubungan dengan konsep wilayah dan/atau hubungan kerjasama semata. Ia telah bergeser menjadi kata yang berhubungan dengan kelas, prestise, atau kebanggaan, pada saat yang sama, mengalami peningkatan nilai rasa.

Sebagaimana yang terjadi pada kata “kota” dan “desa”. Semula, posisi kedua kata tersebut sejajar. Seiring modernisasi yang melanda perkotaan, kata “desa” mengalami penurunan nilai. Pada titik ini, meruaklah istilah ndeso yang berasal dari bahasa Jawa, yang kemudian digunakan untuk menunjukkan “kelas” seseorang atau sesuatu yang lebih rendah. Istilah ini lebih sering digunakan orang kota ketimbang warga desa. Hal sebaliknya terjadi pada kata “internasional”.
Gejala yang terjadi pada kata “internasional” hanya berlaku di negara bekas jajahan seperti Indonesia, bukan di negara-negara penjajah atau yang berbahasa ibu bahasa Inggris. Itulah mengapa sebutan penyanyi internasional atau film internasional tidak berlaku bagi penyanyi Inggris dan film buatan Hollywood. Gelar penulis internasional juga hanya terdengar digunakan dalam festival-festival sastra berlabel internasional yang diadakan di negara bekas jajahan. Di luar dari itu, para penulis ini hanya dikenal entah sebagai penulis buku laris atau novelis di negaranya.

Ania Loomba, dalam bukunya Kolonialisme/Pascakolonialisme, memaparkan proses penginggrisan di negara-negara terjajah. Dia mengutip drama Brian Friel, Translations, yang menarasikan penginggrisan bahasa Irlandia. Di Donagel pada 1833, para kartografer Inggris mengalihtuliskan dan menginggriskan nama-nama tempat dari bahasa Gael dengan bantuan orang Irlandia sendiri. Loomba menyitir Kiberd bahwa, “Makna akar dari ‘translate’ adalah menaklukkan.”

Perubahan makna dan nilai yang terjadi pada kata “internasional” jelas berhubungan dengan lingkungan masyarakat pemakainya. Di tengah masyarakat bekas jajahan, gejala ini tidak hanya menambah aspek makna “internasional” menjadi “lebih berkelas” atau “lebih bermutu”, melainkan juga aspek tujuan penggunaannya, yaitu penggelembungan.

Efek pengelembungan diri lewat label “internasional” jelas terasa pada penyebutan acara yang menggunakan bahasa Inggris. Misalnya, IIBF, yang tidak disebut Pameran Buku Internasional Indonesia, atau JILF, yang tidak disebut Festival Literasi Internasional Jakarta. Hal serupa juga terasa pada ajang sejenis lain, kendati tidak memakai kata “internasional”, seperti Jogja Literary Festival. Padahal, semua acara ini diselenggarakan oleh para penggiat literasi Indonesia. Seolah-olah penyelenggara malu menamakan acaranya dengan menggunakan bahasa bangsanya.

Sesungguhnya, apa yang terjadi di balik label “internasional” dan seabrek acara semacam itu adalah penaklukan sebagaimana dikatakan Kiberd. Pertama, penaklukan bahasa nasional oleh bahasa Inggris. Kedua, penaklukan cara berpikir mengikuti negara tuan.

Saat ini, penjajahan tidak perlu lagi mesti menguasai sebuah negara, melainkan cukup dengan menaklukan bahasa dan cara berpikir masyarakat negara tersebutsuatu bentuk penjajahan yang lebih irit dan tidak kasatmata. Penjajahan ini juga terbukti sangat efektif karena pihak yang terjajah justru dengan senang hati membiarkan diri mereka digembala. Oleh iming-iming prestise dan naik kelas. Oleh obsesi yang membabi-buta pada globalisasi.***

Anindita S Thayf
(Novelis dan esais)

* Sebelumnya pernah dimuat di Majalah Tempo, 28/10/2019.
** Diterbitkan kembali di sini atas izin penulis.

Komentar