SEJENAK SAJA


Menebang pohon tua keramat bukan hanya merobohkan apa yang telah tegak kokoh sebelumnya. 
Deretan mata melotot mengabarkan ancaman menjadi nadi yang menyatu padanya.
Ia adalah senjata yang tak mengindahkan adab musyawarah.
Sejenak saja,
saat lelah melenakan diri yang lupa seharusnya lebih awas.
Setelahnya bilah tajam mata pisau menancap kokoh di jantung meloloskan nafas.
Berdiam diri di gigir tebing menatap jejak yang semakin menjarak.
Kesempatan menyeka peluh yang luruh semakin keruh.
Sedang hidup yang lusuh menuntut tangan terus bekerja, menuntaskan usia pohon tua keramat.

Dengarlah kekasih, sejenak saja.
Aku mencintaimu di tengah kepungan nadi pohon tua keramat dengan jaminan bebas dari intervensi.
Aku mencintaimu hingga Kebosanan menyatakan cintanya padaku.
Ia menyadarkan aku bahwa keseimbangan adalah kunci.

Akibatnya, menihilkan makna pohon kita. 

Puri Idaman, 5 Mei 2019.

Komentar