SEBUAH PENGANTAR: PERTANIAN ORGANIK



Pertanian organik merupakan jawaban atas dampak yang disebabkan oleh maraknya kampanye program revolusi hijau yang dimulai sejak 1950-an di banyak negara berkembang, yang pada masa berikutnya sampai juga ke Indonesia salah satunya. Norman Ernest Borlaug (1914-2009), seorang biologiwan, agronom, filantrop, dan peraih anugerah Penghargaan Perdamaian Nobel untuk tahun 1970, merupakan konseptor awal revolusi teknologi budidaya pertanian ini, kemudian diterapkan pertama kali oleh Ford dan Rockafeller Foundation di Meksiko dan Filipina (www.wikipedia.com).

Dampak negatif setiap penemuan baru diyakini bisa diatasi dengan penemuan-penemuan baru di masa yang akan datang, sebab pada masa itu memang dunia sedang terpesona dengan kemajuan sains dan teknologi. Hal yang sama juga diterapkan dalam program revolusi hijau yang semakin lama semakin menampakkan dampak negatif. Namun sayangnya ternyata dalam kasus ini tidak seperti yang diharapkan, sebab kerusakan lingkungan akibat polusi bahan kimia seperti pestisida dan pemakaian pupuk kimia, belum lagi turunnya kualitas kesuburan tanah menjadi tak terelakkan. Dalam kasus Indonesia, bencana lingkungan ini ditanggung oleh rakyat, khususnya petani, setelah kegagalan revolusi hijau yang dimulai sejak awal 1980-an.

Kegagalan program ambisius ini disebabkan oleh kurangnya pertimbangan atas realitas di lapangan seperti, jurang ketimpangan kepemilikan lahan, pengetahuan tentang teknologi serta cara pengelolaan hasil pertanian di tingkat petani. Hasilnya, Indonesia hanya mampu mempertahankan status sebagai negara swasembada beras hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari dua tahun (1984-1986). Pada masa berikutnya, setelah kegagalan Indonesia mempertahankan status sebagai negara swasembada beras, kelas petani dihadapkan dengan persoalan baru, yakni kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia yang gencar disebar tanpa pertimbangan (Rahmawati, 2005). Pun, terhadap kesehatan, konsumsi bahan kimia juga berdampak negatif.

Memasuki tahun 2000-an, di Indonesia mulai dikampanyekan gerakan kembali ke pertanian organik sebagai bentuk kesadaran akan bahayanya penggunaan bahan kimia dalam produksi makanan dan dampaknya pada kerusakan lingkungan. Bahkan pemerintah pernah mencanangkan kebijakan yang khusus untuk pertanian organik dengan nomenklatur ‘Go Organik 2010’ (Henny Mayrowani, 2012). Sebagai bangsa yang menjadikan padi sebagai bahan makanan pokok, Indonesia memiliki perhatian yang lebih untuk masalah pertanian padi. Karenanya gerakan kembali ke pertanian organik sangat diperlukan dan mendesak untuk menjawab tantangan zaman.

Selain kesehatan lebih terjamin, beras organik juga mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi petani dibandingkan dengan pertanian non-organik yang diterapkan sebelumnya. Karenanya di beberapa daerah di Indonesia sekarang sudah mulai banyak petani yang beralih ke produksi beras organik walaupun butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan fungsi tanah seperti sebelum tercemar bahan kimia. Beras organik dan non-organik dapat dibedakan dengan melihat beberapa cirinya.

Sejauh mana tingkat pengetahuan rakyat terhadap berbagai keunggulan padi organik ini berbanding lurus dengan semakin berkurangnya penggunaan bahan kimia untuk pertanian. Ini menjadi langkah yang baik untuk memulai meningkatkan kekuatan daya saing sumber daya alam Indonesia di antara negara-negara lainnya.

Perlu dan mendesaknya untuk memikirkan langkah-langkah peningkatan daya saing ini tidak terlepas dari fenomena yang sedang kita hadapi. Kemajuan zaman yang menggiring kita memasuki masa keterbukaan ekonomi global seperti saat ini menuntut setiap negara agar mempersiapkan dirinya untuk bersaing dengan negara lainnya. Peningkatan produksi beras organik yang sedang menggeliat saat ini di Indonesia semoga dapat menjadi jawaban untuk mengurangi beban impor dan, kalau memang memungkinkan, dapat juga menaikkan jumlah ekspor beras nasional (Dika Supyandi, dkk, 2014). Yang lebih penting dari itu, harapannya gairah pertanian Indonesia ke depannya akan berdampak juga terhadap peningkatan dan pemerataan ekonomi rakyat.


Sumber:

Arafah dan M.P. Sirappa. 2003, Kajian penggunaan Jerami dan Pupuk N, P, K, pada Lahan Sawah Irigasi. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Volume I.

Mayrowani, H. 2012. Pengembangan Pertanian Organik di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Volume 30: No. 2.

Rahmawati, N. 2005. Pemanfaatan Biofertilizer pada Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Supyandi, D, 2014, Beras Organik: Upaya Meningkatkan Daya Saing Produk Pertanian (Studi Kasus di Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat), Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjajaran, Volume 4, Nomor 1.

Komentar