PERISTIWA MIMPI MASA KECIL


Saat bangun tidur tersengat cahaya
adalah satu ketika yang ingin ditiadakannya
sebab mata begitu malas beringsut
dipaksa waktu merelakan kantuk.
Selamat tinggal, sayang.

Saban hari gerutunya dalam kalimat
seperti ucapan akrab selamat datang
pada hari yang selalu akan gawat;
pada waktu yang tak peduli pantang.

Berkemaslah ia sebelum pergi.
Dalam girang yang murung
ia sandang segala laba dan rugi,
menyuruk hati yang berhenti pulang.

"Abadilah pada bambu di sudut taman!"
igaunya.
Sisa mimpi yang lekat ia toreh di antara ruasnya.

Dalam kantuk yang enggan pergi
ia sematkan dengan satu peniti:
sampaikan pada siapa yang tersisa,
betapa cinta tak menimbang rasa.

Oh, kepada suluhsuluh pijar di sawah
ia melempar percaya serta cemas.
Ketika langit sedikit bercelah
ia bersiap tekun lagi yakin menerabas.

Di jalan menuju kamar mandi
ia hentikan bujur barat dadanya:
mogoklah, bisiknya di ujung sesak.
"Sudah lama tak kulihat kunang-kunang,"
lirihnya.

"Ayo, kita gegas menjemput putih,
membebaskan masa kecil dari mimpi."


Jakasetia, 04 Juni 2018

Komentar