AWAN KEABU-ABUAN


Pakaian kemarin pagi aku simpan
di bilik awan keabu-abuan,
agar kamu tidak disusahkan
sebab kulitmu mengelupas tak tertahan.

“Karena sabun cuci apapun adalah musibah”, katamu.

Aku maklum pada galak manjamu,
tidak akan kubiarkan airmata
sekadar mampir pada bundar pipimu,
pada lengkung daun yang belum purna.

Di bilik awan keabu-abuan
pakaianku menggunung jumlahnya.
Astaga!
Kusiasati dengan seunggun api,
kupersembahkan kepada seekor badak.

Badak mahir memusnahkan unggun
menggunakan kaki tanpa meninggalkan
bekas luka bakar. Luka seperti sebagian dada kiriku
setelah memutuskan untuk memasukimu.

Sebelum pertanyaan, “kenapa tidak kamu saja?”
lepas dari corong di mana aku menambat,
buru-buru kusumpal dengan seikat petasan.
Kunyalakan ujung sumbu-sumbunya.

Di bilik awan keabu-abuan
kudengar guruh lepas kendali saat
mengurai hujan pertama yang mustahil ditebak.
Melenyapkan diri menjadi masadepan.

“Lihatlah, Sayang, pakaian kotormu
tanpa dikucek, tanpa dibilas, bahkan
tanpa dijemur sekalipun, tampak seperti baru.
Seperti ketika pakaianmu masih di pikiran.”

Langit di kepalaku memutih menunda
senja yang terlanjur disanjung oleh
penyair-penyair yang sering aku baca,
dan juga kaubacadi mimpi.

Di bilik awan keabu-abuan
aku taburkan garam pada hujan
yang segera menyelam ke hati kita.
Hei! Hidup ini butuh diasinkan.



Puri Idaman, 22 Februari 2019

Komentar