Menyoal Buku Terlarang, Momok di Jalan Sunyi



Dalam kondisi kepala masih berat dan sedikit terhoyong akibat sakit yang seminggu ini saya idap, saya memulai mengetik tulisan ini dengan sedih yang sangat. Lebih-lebih setelah membaca berita yang ditulis beberapa orang kawan soal Razia Buku Terlarang di Kota Padang, Selasa (8/1). Lantas saya berpikir, benarkah berita itu ditulis oleh kawan-kawan saya? Dari judulnya saja, saya pikir itu bukan tabiat dari mereka yang saya kenal isi kepalanya.

Dikabarkan, ditemukan 6 buah buku (sebenarnya 3 judul) di salah satu toko buku favorit saya di Kota Padang–setelah pasar buku loak di Kompleks Padang Theater–yang konon menjual buku dengan konten yang dilarang beredar di Indonesia. Judul-judul buku yang diamankan aparat antara lain Kronik 65, Mengincar Bung Besar, dan Jasmerah.

Saya tak ambil hirau soal konten terlarang yang dimaksud, akan tetapi saya hirau jikalau toko buku favorit saya itu nantinya tutup, karena rasa enggan pembeli menghampirinya. Atau was-was diklaim tengah mencari buku 'Kera Sakti'. Jika itu terjadi, kemana lagi saya akan mencari buku ihwal cinta dengan harga sangat terjangkau. Atau katakanlah buku Laksmi Pamuntjak, A. Tohari, Oky Madasari, dan lain nama dengan harga bak kena subsidi: murah. Semoga saja tidak. Semoga penertiban itu tak mematahkan minat baca mereka yang ramai di jalan sunyi.
Sumber klik di sini
Kalau saya tidak salah mengingat informasi dari berita-berita yang saya baca, sebelum era reformasi, kebebasan berpendapat memang sangat dikontrol oleh pemerintah. Pengekangan kebebasan itu termasuk dalam hal penerbitan buku. Buku dianggap sebagai salah satu cara untuk menularkan ide ke masyarakat umum–jika masyarakatnya suka membaca pula. Maka dari itu, ada lebih dari 200 buku yang pernah dilarang beredar karena dianggap akan membahayakan posisi penguasa pada saat itu.

Katakanlah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Dulu (bukan sekarang) tak ada anak muda yang tidak tahu dengan seri roman Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Empat magnum opus Pramoedya Ananta Toer itu sangat digandrungi. Tapi siapa sangka jika karya apik tersebut dulu pernah dilarang  untuk dibaca dan beredar? Duhai Nyai Ontosoroh! Kurapalkan doa buatmu yang melawan penindasan kaum laki-laki. Duhai Vanesha…

Bukan hanya berhenti di tetralogi itu, karya Pram (panggilan akrab Pramoedya) lainnya juga dicekal seperti, Hoakiau di Indonesia, Keluarga Gerilya, Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan, Pertjikan Revolusi, Keluarga Gerilja, Ditepi Kali Bekasi, Bukan Pasar Malam, Tjerita Dari Blora, Midah si Manis Bergigi Emas, Korupsi, Gulat di Djakarta, Tjerita dari Djakarta, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Panggil Aku Kartini Sadja jilid 1 & 2

Konon saat ini, sebagian karya yang dilarang itu ternyata kini jadi rujukan buku kuliah di Universitas Queen Mary London. Sekali lagi, London!
Sumber klik di sini
Hebatnya lagi, buku karya proklamator Republik Indonesia juga pernah dilarang beredar. Buku Demokrasi Kita dilarang beredar oleh penguasa militer pada 1960an karena diduga berisi kritik atas kebijakan Presiden Soekarno yang dinilai otoriter.

Setali mata uang, buku-buku Agam Wispi juga dilarang beredar dan dibaca saat itu. Salah satu buku yang dicekal itu adalah buku berjudul Sahabat yang diterbitkan Lekra pada tahun 1959. Buku tersebut dilarang oleh Pembantu Menteri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan, Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo, pada 30 November 1965. Buku Agam Wispi lainnya yang dilarang seperti Nasi dan Melati, Yang Tak Terbungkam, maupun Matinja Seorang Petani juga pernah dilarang.

Banyak lagi buku bahkan sampai 200 buku yang dilarang. Jika buku-buku itu bisa “ngomong”, pasti dia tak akan bohong.

Saya hanya bisa berharap, semoga yang dilarang memang buku-buku yang layak dilarang, katakanlah itu buku tentang cara cepat kaya dengan dengkul (orang lain), atau cara jitu lulus calon karyawan negeri yang nyatanya tak lulus-lulus. Panjang umur dunia literasi–sebab banyak kawan-kawan saya yang tengah semangat mengumpulkan buku agar bisa dibaca orang pinggiran. Salam.

Komentar

  1. Penjara literasi..
    Sudah minat baca Indonesia ini kurang, sekarang buku banyak dilarang yang menurut ideologi hawa nafsu mereka yang tak sejalan..apa sebahaya itu kawan?..ini tentang rezim panik atau tentang kepentingan segelintir golongan..

    BalasHapus
  2. Untuk minat baca rakyat Indonesia saya tidak setuju dengan pendapat bahwa minat baca mereka rendah. Sebab, apabila akses ke sumber bacaan dipermudah/dipermurah, saya yakin akan banyak rakyat yang gemar membaca. Wacana beberapa tahun lalu untuk memberikan subsidi terhadap penerbitan buku sempat menjadi semacam secuil cahaya yang memancar dari seonggok emas olahan usus. Sayangnya, seperti jalan-jalan terang lainnya, ia pun menjadi temaram, lalu kelam. Hilang!

    Kepanikan rezim? Saya masih rancu dalam pemahaman kata "rezim". Kepanikan segelintir golongan, bisa jadi. Sebab, saya tidak percaya bahwa mereka mengambil tindakan untuk bertindak sekehendak mereka punya otak segampang mereka menumpahkan berak. Manusia adalah makhluk politis yang otentik, kata Hannah Arendt.

    BalasHapus
  3. kalau akses ke sumber bacaan dipermudah / dipermurah itu sudah terjadi dalam kontek "BACA" tidak harus buku..
    DIPERMUDAH ( setiap orang rata2 punya Smartphone lebih dari satu)
    DIPERMURAH ( paket tak ada bisa numpang wifi gratis)
    Setiap hari kita sibuk scroling laman FB hanya untuk membaca status orang lain dan itu sudah membuktikan bahwa akses kesumber bacaan sudah sangat dipermudah dan dipermurah..yang jelas rasa ingin tau manusia Indonesia sangat baik "KEPO"..tugas anda sebagai penulis buat lah tulisan yang bikin orang ingin KEPO agar tulisan anda selalu ditunggu-tunggu manusia KEPO.

    BalasHapus
  4. Benar, kalau untuk akses ke sumber bacaan seperti gawai pintar sudah menyampah jumlahnya. Faktanya kini, pembiasaan membaca itu belum diarahkan tumbuhnya. Sebab golongan terdahulu tidak memiliki bekal untuk mengarahkan generasi di bawahnya kepada bacaan yang "seharusnya". Untuk ke depannya, dengan menggalakkan komunitas-komunitas literasi, jika memang subsidi buku tidak jadi, diharapkan akan menjadi pintu bangsa ini menuju dunia benderang.

    Menulis yang bikin kepo itu bikin judul seperti "5 Hal ini Bisa Menjadikan Kamu Kaya Muda, Nomor 4 Paling Penting"


    BalasHapus

Posting Komentar