OTOBIOGRAFI IBN SINA: TATKALA HARGAKU MAHAL, AKU KEHILANGAN PEMBELI


Ayahku berasal dari Balkh dan pindah ke Bukhara pada masa kepemimpinan Nuh Ibn Manshur. Ia sibuk mencari mata pencaharian dan bekerja di sela-sela kesehariannya di sebuah desa pinggiran Bukhara bernama Kharmatsan, sebuah desa penting di daerah sana. Di samping desa itu, ada sebuah desa yang bernama Afshanah. Di sanalah ayahku meminang ibuku dan tinggal dan [bekerja] sebagai penenun. Aku lahir di desa itu, kemudian disusul adikku [lima tahun kemudian], kemudian kami pun pindah ke Bukhara. Aku dibawa ke guru Al-Quran dan guru sastra. Ketika aku beranjak umur 10 tahun aku telah berhasil menguasai Al-Quran dan banyak sastra sehingga guruku itu takjub denganku.

Ayahku termasuk orang yang menerima dakwah orang-orang Mesir dan ia bermazhab Ismailiyyah. Ia telah mendengar dari mereka ajaran tentang jiwa dan akal menurut versi yang mereka ucapkan dan mereka kenalkan kepadanya, begitu juga adikku. Terkadang mereka berdiskusi soal itu dan aku mendengarkan dan mengetahui apa yang mereka katakan dan jiwaku menolak apa yang mereka katakan. Mereka pun mulai mengajakku untuk bergabung. Mereka juga membincangkan soal filsafat, geometri, dan ilmu hitung India. Lalu ayahku mengarahkanku kepada seorang lelaki penjual sayur-mayur yang menguasai ilmu hitung India dan aku belajar kepadanya.

Sampailah seorang yang didaku filsuf ke kota Bukhara, bernama Abdullah An-Natili [atau An-Natali?]. Ayahku mengundangnya ke rumah untuk mengajariku. Sebelum kedatangannya, aku sibuk mempelajari fikih, mengulang-ngulangnya di hadapan Ismail Az-Zahid. Aku termasuk orang yang pandai bertanya, dan aku telah menulis tentang jalan-jalan pengklaiman dan cara-cara membantah jawaban, menurut sudut pandang yang lumrah pada waktu itu. Kemudian aku mulai membaca kitab Isagoge [kitab mantik yang ditulis oleh Porphyry] dalam bimbingan An-Natili. Ketika ia menyebutkan definisi ‘Jenis’ yaitu ketegori yang mencakup banyak perkara yang berbeda kelas dalam rangka menjawab pertanyaan “Apa itu?”, maka aku membawanya ke penyelidikan definisi ini kepada sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia amat sangat takjub kepadaku. Setiap permasalahan yang ia ucapkan, aku bisa menggambarkannya lebih baik dari dirinya dan ia pun memperingatkan ayahku soal kesibukanku selain [bidang] keilmuan.
Sumber klik di sini
Aku membaca zahirnya mantik kepada An-Natili. Sedangkan yang tersembunyi dari ilmu itu, ia tidak memiliki informasi. Aku pun membaca kitab itu sendiri. Kupelajari anotasi-anotasinya, sampai kukuasai ilmu logika. Adapun kitab Euklides, aku belajar kepadanya dari permulaan lima tipe atau enam kemudian kulanjutkan sendiri untuk memecahkan kitab itu secara keseluruhan. Kemudian aku beralih ke Almagest [kitab geometri yang ditulis oleh Klaudius Ptolemaeus]. Tatkala menyelesaikan prolog dan tipe-tipe geometri, An-Natili berkata kepadaku: “Baca dan pecahkanlah kitab itu sendiri, lalu setorkan kepadaku agar bisa kujelaskan kepadamu mana yang salah dan mana yang benar.” Apa yang ditulis di kitab itu aku pecahkan semuanya. Ketika kusetorkan bacaanku kepadanya alangkah banyaknya tipe geometri yang An-Natili tidak tahu dan aku memberi pemahaman kepadanya. Kemudian An-Natili berpisah denganku untuk menuju ke kota Gorganch.

Aku menyibukkan diri dengan inti dan manikam kitab-kitab dalam bidang fisika dan metafisika dan pintu-pintu ilmu pun terbuka untukku. Kemudian aku tertarik dengan ilmu kedokteran dan kubaca kitab-kitab yang membahas tentang itu. Ilmu kedokteran bukanlah ilmu yang sukar, oleh karenanya aku sudah piawai hanya dalam hitungan waktu yang singkat, hingga para dokter unggulan pun berguru kepadaku. Aku merawat orang-orang sakit dan terbukalah untukku pintu-pintu penyembuhan yang tak terbayangkan yang kugali dari praktik langsung. Demikian itu aku juga masih sibuk dengan ilmu fikih dan mendalaminya. Waktu itu aku masih berusia enam belas tahun.

Kemudian kuhabiskan setahun setengah untuk belajar dan membaca dan kusiapkan diriku untuk membacai mantik dan seluruh cabang filsafat. Pada waktu itu aku tidak tidur di keseluruhan malam dan di siang harinya aku tidak menyibukkan diri selain belajar. Aku mencari kejelasan, maka semua argumen yang kupikirkan, kutetapkan kepadanya pengantar silogisme dan urutan-urutannya, berharap akan menghasilkan konklusi. Kuperhatikan betul syarat-syarat pengantar argumen sampai masalahnya jelas bagiku. Masalah-masalah yang kubingungkan dan tak bisa kupecahkan dengan premis minor dalam silogisme membuatku bolak-balik ke masjid untuk shalat dan mengadu pada Pencipta segalanya sehingga terbukalah bagiku apa yang tertutup dan termudahkanlah apa yang sulit. Di malam hari aku kembali ke rumah, kunyalakan lampu dan kusibukkan diriku dengan membaca dan menulis. Ketika aku ketiduran atau merasa capai, kupulihkan dengan segelas minuman agar aku lekas kuat lagi untuk kembali membaca. Ketika aku tertidur, aku melihat problem itu dengan jelas di mimpiku. Banyak problem yang terpecahkan di mimpi. Hal itu kulakukan terus-menerus sampai kukuasai seluruh ilmu dan aku berdiri di hadapannya dengan ukuran kemampuan yang manusiawi. Dan apa yang aku ketahui di waktu itu adalah apa yang kuketahui sekarang, tidak bertambah apa pun sampai hari ini.

Sampai kukuasai ilmu logika, fisika, matematika dan aku berhenti di metafisika. Kubaca kitab Metaphysics [ditulis oleh Aristoteles] dan aku tidak paham apa yang ada di sana. Apa yang dimaksudkan oleh penulisnya begitu samar bagiku. Kuulang-ulangi membaca hingga 40 kali, sampai aku hapal. Meskipun demikian aku tidak memahami maksud yang ada di dalamnya. Timbullah keputus-asaan pada diriku dan aku berkata: “Tak ada jalan untuk memahami kitab ini!” Suatu sore, aku berkunjung ke toko buku. Seorang penjual maju dengan sejilid kitab yang ada di tangannya. Ia menawarkannya kepadaku dan kutolak mentah-mentah, dengan keyakinan bahwa ilmu [yang ada di kitab] itu tak ada gunanya [bagiku]. Ia pun berkata: “Belilah. Pemiliknya butuh uang. Harganya murah, kok. Kujual kepadamu tiga dirham.” Maka kubeli kitab itu dan alangkah itu adalah kitabnya Abu Nashr Al-Farabi yang menjelaskan maksud kitab Metaphysics. Aku pulang ke rumah dan tanpa basa-basi kubaca kitab itu dan seketika terbukalah untukku maksud dari kitab itu karena ia sebelumnya sudah kuhapal di luar kepala. Aku bahagia karena itu. Di hari selanjutnya kusedekahkan banyak rezeki kepada kaum fakir sebagai rasa syukurku kepada Tuhan.
Sumber klik di sini
Seorang Sultan masa di Bukhara yang bernama Nuh Ibn Manshur terkena penyakit yang membuat bingung para dokter. Namanku sudah masyhur di kalangan mereka dengan penguasan ilmu dan membaca, maka mereka terus menyebut-nyebutku di hadapan Sultan dan mereka memintanya untuk mendatangkanku. Aku pun datang dan aku ikut andil bersama mereka dalam menyembuhkan sang Sultan dan aku sangat senang dalam melayaninya. Suatu hari, aku meminta izin untuk masuk ke perpustakaannya dan melihat-lihat dan membaca kitab yang ada di sana. Ia mengizinkanku dan membawaku ke sebuah kediaman yang memiliki banyak rumah. Di setiap rumah ada rak kitab yang saling berjejalan. Di satu rumah ada kitab-kitab Bahasa Arab dan puisi. Di rumah lainnya ada kitab fikih, dan begitulah, di setiap rumah terdapat ilmu tertentu. Aku pun menengok bibliografi kitab-kitab orang terdahulu dan aku meminta kitab-kitab yang kubutuhkan yang mana orang-orang tak banyak tahu dan yang aku tak pernah melihatnya sebelum ataupun sesudah itu. Aku membaca kitab-kitab itu dan kukuasai lubuk-lubuknya dan kuketahui tingkatan ilmu tiap-tiap pengarangnya.

Ketika aku beranjak 8 tahun [apa benar delapan tahun?], aku sudah mempelajari semua ilmu itu. Pada waktu itu aku hapal ilmu itu, akan tetapi hari ini ilmu itu lebih matang. Jika tidak, maka ilmu itu satu, dalam diriku, tak pernah terbarui setelahnya.

Aku punya tetanggga bernama Abul Hasan Al-‘Arudhi. Ia memintaku untuk menulis kitab yang mengumpulkan semua ilmu itu. Maka aku mengarang kitab Al-Majmū’ dan kunamai dengan namanya [kitab itu adalah Al-Hikmah Al-’Arūdhiyyah]. Kitab itu mencakup semua ilmu kecuali matematika. Saat itu aku baru berumur 21 tahun. Aku juga punya tetangga bernama Abu Bakar Al-Baruqi [Al-Biruqi?], seorang kelahiran Khawarizmi, seorang yang jiwanya cerdas, fokus dalam bidang fikih, tafsir, dan zuhud [tasawuf] dan ahli dalam ilmu-ilmu ini. Ia memintaku untuk menuliskannya kitab, maka kukarang untuknya kitab Al-Hāshil wa Al-Mahshūl yang berjumlah 20 jilid. Aku juga mengarang kitab untuknya dalam bidang etika berjudul Al-Bir Al-‘Ātsim. Kedua kitab ini tidak tersedia kecuali pada dirinya, ia belum menyalin kedua kitab itu untuk orang lain.

Ayahku meninggal dan keadaan pun mendesak dan aku ikut bekerja untuk Sultan. Aku terpaksa meninggalkan Bukhara dan pindah ke Gorganch. Di sana ada seorang wazir bernama Abul Hasan As-Suhaili yang mencintai ilmu-ilmu ini [filsafat].

Di sana aku dibawa ke seorang amir, yaitu Ali Ibn Makmun. Saat itu aku memakai pakaian fukaha dengan jubah panjang. Mereka menggaji bulananku dan mencukupi kebutuhanku. Kemudian aku terdesak untuk pindah ke Nusay, kemudian ke Barud, kemudian ke Thus, kemudian ke Samangan, kemudian ke Jajarm; tapal batas Khurasan, kemudian ke Jurjan. Tujuanku adalah Qabus [pemilik Jurjan]. Di sela-sela itu, kebetulan Qabus diciduk dan dipenjara di bagian benteng dan meninggal di sana.

Kemudian aku pergi ke Dehestan dan di sana aku terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Aku pun kembali ke Jurjan. Abu Ubaid Al-Jauzajani [muridnya Ibn Sina] menemuiku dan dalam keadaan sakit itu ia mendendangkan syair yang berbunyi:
Tatkala aku jadi agung, tak ada tempat yang bisa menampungku.Tatkala hargaku mahal, aku kehilangan pembeli.

Catatan:
*) Penerjemah: M.S. Arifin
**) Judul otobiografi dari penerjemah
***) Kalimat penjelas dalam tanda kurung dari penerjemah
****) Otobiografi ini diambil dari mukadimah kitab An-Najat (Dar Al-Afaq Al-Jadid, Beirut, tahkikan Dr. Majid Fakhri)

Komentar