MEMBASUH DOSA



Dengan mengajarkan menanak nasi,
belum tentu mutu hidup akan meningkat;
sagu telah resap pada daging menubuh.

Dengan memoles lantai dengan keramik,
belum tentu status sosial akan mentereng;
tanah debu tungku telah menyepuh tebal tapak kaki.

Dengan menancap corong asap raksasa,
belum tentu perut serta-merta sepakat;
hutan ganas menghidupi hidung yang ramah.

Dari balik semak, anak yang
tak sekolah; tak tau baca-tulis;

tak berbaju pula, heran. Dari ruwet kening
jelas nyala matanya curiga:
“Masih ada yang Tuan rasa kurangkah?”

Jauh sudah jejak kata meninggalkan jiwa
di pangkal langkah memandang kapal
melempar sauh mengejek dari jauh
diri yang sibuk saling rebut
dalam rembuk saling sikut.

Seperti ini sejak sampah disepakati
dengan khidmat sebagai sumpah,
berebut siapa yang memakna, hatta
siapa yang manut harus dipaksa.

Bahwa tak pernah Yang Maha, tampak nyata
seperti peristiwa dan bencana; kapan dan di mana.
Sedang yang lain tak lebih dari hinggap,
pada manusia mulut neraka bersiap.

Bahwa kita lupa itu benar.
Dari pucuk surian mengembang dada
mendakwa telanjang sebagai dosa.
Harus dibasuh sebelum belajar
menerima diri dipaksa tunduk; dipaksa berlari.

Sedang kafan tak pernah lepas dari mata.


Salemba, 07 – 10 Desember 2018

Komentar