YOGYAKARTA: SYAHDAN TIDUR, BERSIAP, BERSIGEGAS! (1)


Seperti almanak kadaluarsa di hari biasa sebelumnya, di Rabu yang biasa ini pun kami tetap bekerja seperti biasa. Melanggar imbauan dokter untuk tidak terlalu lama berhadapan dengan layar komputer dalam kondisi menyala adalah yang paling jamak ditemukan di kantor. Agar tak bosan, selain menghadapi jamaah dan mitra, di antara kami ada yang menyempatkan diri untuk melakukan dosa terhadap waktu – mencuri sekadar obrolan-obrolan kecil yang tak selalu mulus , bahkan terkesan sering putus.

Sebenarnya aku berbohong jika mengatakan Rabu yang aku ceritakan ini sebagai hari biasa di kantor yang sama. Sebabnya, selain beban kantor, kami juga membawa beban tambahan pakaian ganti serta perkakas lainnya yang lebih banyak tinimbang hari-hari sebelumnya. Tak sabar menunggu waktu pulang, kami menyiapkan segala sesuatu yang dirasa terlupa. Ada sebagian kawan-kawan yang memang harus menyelesaikan pekerjaannya. Mereka adalah orang-orang yang memang sedang apes. Aku sendiri menipu waktu dengan cara menyusuri goa kelam di balik biji mata – tidur dan sibuk menyusup dari satu keramik ke kursi yang lain.

Syahdan, matahari mulai menggelinding – oh tidak, hati-hati kepala kalian yang berada di bawah! Aku tak tahu persis pada detik dan menit ke berapa di jam duabelas itu, matahari mulai berat ke barat karena alasan yang akan terkesan repetitif jika dijelaskan. Di sela pekerjaan yang itu-itu juga, beberapa ada yang saling membocorkan rencana.Ibukota macet, tentu saja. Bahkan akan terdengar tidak masuk akal bila macet dihapuskan dari daftar rutinitas ibukota. Siapa yang tak pernah mengambil andil dalam kemacetan ibukota tentu saja ia tak bisa disebut sebagai – meminjam lidah Seno Gumira Ajidarma – “Jakartanicus” yang paripurna. Keahlian musang menyeberang kabel telkom merupakan keahlian yang dimonopoli oleh musang ibukota; belum lagi perkara tikus got yang mencari nafkah melebihi kegigihan kebanyakan para Jakartanicus – meremehkan harga nyawa demi nyelonong dari satu lubang ke lain lubang yang belum pasti menyediakan makanan bagi mereka, sambil berdoa semoga benda karet bundar keparat tak menggelinding di pucuk nyawa. Mungkin bisa dibilang mereka yang mati sebagai syuhada.

Bakda asar, beberapa kawan sudah mengambil posisi di depan gedung Menara Salemba – tempat di mana kami memupuk madu persediaan sebulan, mungkin. Aku yang baru saja bangun dari tidur yang sembunyi, segera menjunjung otak yang sedikit tak semesti biasa, liar mengalir membayangkan mereka sedang mengabsensi nomor polisi setiap mobil yang lewat – hal yang biasa aku dan kawan-kawan lakukan di kampung.

Wajah kusam setelah ditingkahi debu dan pendingin ruangan itu tak butuh waktu untuk dimengerti oleh awam sekalipun, menjadikan mereka begitu mudah ditebak sebagai kelas pekerja semenjana nine to five yang mengendarai motor. Aku berusaha menyingkirkan pikiran konyol itu dengan menyulut sepercik api dari zippo agar kata benda “rokok” menjadi kata kerja “merokok.” Tepat setelah tarikan pertama aku menyungging tawa, “mobil yang menjadikan jalanan seolah selalu hamil tua itu mana mungkin bisa diabsensi, apalagi sambil menyeruput kopi sasetan. Tak seperti di kampung yang memang jarang ditemukan orang yang berduit lebih sekadar untuk melebih-lebihkan polusi udara,” lalu bergabung untuk tidak melancarkan pikiran konyolku.

Matahari semakin malas setelah seharian dihalangi awan (atau debu), lalu menuntut pada bulan agar mau berganti shift menggelantung di langit. Ingin aku selipkan cerita tentang dedauanan yang ikut jatuh digili angin, namun aku takut kesan ibukota menjadi kurang banal. Aku putuskan untuk mengabaikannya saja. Sebagian sejawat berusaha mencari solusi bagaimana cara terbaik dan paling ringkas untuk mencapai tujuan awal: Stasiun Gambir. Perempatan Salemba yang biasa menjadi tempat ngetem mikrolet ditunggui oleh seorang kawan, Aryo Saputra, yang lebih akrab dipanggil Darson (pengecualian bagi Huda yang memanggilnya dengan nama Gaston). Sebentar tawar-menawar, lalu berlalu itu mikrolet, Darson kembali membawa pertanyaan, "pego" itu berapa, ya?”

Tak perlu kulanjutkan percakapan Darson yang sedang kebingungan setelah menolak tawaran supir mikrolet yang menyebutkan harga "pego," sebab setelahnya kita sepakat untuk memesan taksi online sebagai solusi akhir. Perjalanan dimulai sehabis salat magrib. Di stasiun kami sudah ditunggu oleh rekan selusuh dari kantor pusat. Tawaran nasi kotak untuk masing-masing kami diterima tanpa basabasi, biar kesan Jakartanicus-nya semakin nyata.

Sebentar kemudian, nasi kotak pembagian itu ditandaskan ke kerongkongan masing-masing, agar kotak rakitan itu segera kandas beserta penghuninya. Aku bukan yang pertama menghabiskannya. Alasannya sepele, aku hanya ingin tahu di mana sampah akan dikumpulkan. Syahdan, ritual zaman purba pun dimulai: merokok. Pembagian tiket oleh Husnul dan Anisa – yang memang menghabiskan sisa usia remajanya di balik meja ticketing – berjalan bersamaan dengan ritual. Kami, para pelaku ritual, tidak marah diganggu, karena ritual itu tidak begitu sakral, sesekali boleh izin sekadar mengambil tiket setelah nama dipanggil sang pawang.

Aku menadapat tempat duduk di gerbong wisata. Sebelumnya aku khawatir kenapa namaku tidak dipanggil, sampai Asep memberitahu kalau kita satu gerbong. Tidak dengan tiket kertas, melainkan tiket berbahan seperti KTP yang dikalungkan selama perjalanan. Setiap masjid di penjuru Jakarta sudah mengkhatamkan adzan isya. Setelah menempati kursi masing-masing, kami bersiap berangkat menuju Yogyakarta. Kini, sampai atau tidaknya ke tujuan tergantung masinis kereta.

Komentar