PADA RUMAH YANG PERNAH LUPUT

kita terbiasa bersampan ke arah segala, 
kecuali ke rumah kita biasa bertempat.
aku dan kau tak pernah saling memberi jujur, 
sedang perlahan matahari selalu melipir.

cakrawala di dahi masing-masing kita menanda.

kepada biru aku ingin minta kata, 
kepada biru aku ingin beri lugas, 
kepada kau aku ingin minta bicara, 
kepada kau aku ingin beri muras:
berkobarlah hati yang lembap ini.

tak perlu bedil rupanya,
aku ternyata begitu rentan terjerat mati.
jasad yang hanya bisa di darat ini,
tak butuh laut penjemput ajal.
lentera, dengan mengunci kata saja
sudah cukup mengakhiri aku.

mata aku lupa dengar rumah, 
bibir aku tuli bicara rumah, 
kuping aku buta lihat rumah:
begitulah hakikat raga yang lena.

“aku adalah rekaman hidup kau, 
supaya yang pernah luput dapat
kau singgahi kembali,” kata kau.

barisan mahoni rimbun di batok kepala aku
kau pangkas dengan lembut-kasih:
ayunannya di tangan kau,
menyentak diri yang lagi nyenyak.

lentera, aku hampir selesai membaca kitab,
melempar bermacam doa– 
mungkin bisa disebut sejuta tanya.

lentera, segala yang aku lafalkan,
yang aku tuntut memberi terang,
tak satu pun yang memberi jawab
untuk mengingkari apa yang nyata, 
tentang adanya apa yang selalu bohong
dalam setiap obrolan aku dan kau:
bahwa diam-diam di antara aku dan kau
tidak ada yang rela untuk lupa.

kepada rumah aku dan kau kembali
mengumbar harap dalam masing hati, 
bermastautin hingga saatnya langit menjelma
magnet, menarik ruh kita. 





Salemba, 15 Oktober 2018

Komentar

  1. Balasan
    1. Ineh carito ibarat uhan mabeuk pas sadar kironyo nyo kek mesjoik, lah toh lanjoh nyo sian tubeak
      😁

      Hapus
  2. Balasan
    1. Basaba dulu ndan untuak kenikmatan tu
      Hehehe

      Hapus

Posting Komentar