DI BELAKANG KEPALA BATU


bagaimana bisa kita amnesia?
sedangkan melulu kita kobarkan
cacian diri sebagai yang lampau
tertinggal jauh di belakang langkah,
kawan.


kau bilang padaku bahwa
rambut adalah mahkota hawa
tanganmu tak henti mengobel
kelupaan kaujadikan cicak
boleh dibunuh jika ingin pahala.


di bandung aku mendengar kabar
kukabarkan pada semua
kau bukan suatu kelupaan tentu
ada yang mati di pelepah pisang,
begitu giris!


seragamnya rapi di lemari
masing-masing tak segan memamerkan
mereka punya taring tanpa gingsul katamu,
kawan.


seorang tua mengejek di pojok jalan
yang aspalnya setua wajahnya:
                “mereka yang muda diserang amnesia.”


kita saling tahu pak tua kusam itu
menunjuk hidung kita yang bohong untuk dikatakan mancung
sebagai pemuda kepala kita berbangga memegang prinsip
tak peduli berapa mulut menyerapahi:
                “periksa jejakmu kepala batu.”


sejenak kawan, kita musti insaf.


Bekasi, 14 September 2018

Komentar