BIJI HITAM NUSANTARA YANG MERAJAI DUNIA



Siapa yang tidak tahu khasiat kopi di zaman sekarang ini? Dari seorang pecinta kopi sampai yang bukan pasti tahu khasiatnya untuk membuat mata melek. Lebih dari sekadar tahu khasiatnya, kini para pecinta kopi juga gemar mengulik semua yang berkaitan dengan si raja hitam itu. Tulisan singkat ini akan mengupas sekilas tentang kejayaan kopi Nusantara di masa lampau.
            Jika Anda memiliki waktu luang barang seharian penuh, dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Anda bisa mengunjungi daerah Selakopi di kota Cianjur, Jawa Barat, dengan jarak tempuh sekira 137 kilometer atau menempuh waktu sekira 4 jam via tol Jagorawi. Apa yang ingin saya sampaikan dengan memaparkan cara mencapai sebuah daerah yang kurang dikenal masyarakat umum ini – apalagi bagi yang berasal dari luar daerah – adalah karena Selakopi dipercaya sebagai tapak awal kerajaan kopi Nusantara menaklukkan pasar dunia.
            Masyarakat Cianjur kini umumnya mengenal daerah Selakopi hanya sebatas namanya saja tanpa mengenal akar sejarah penamaan daerah tersebut. Seperti yang dikutip historia.id (3/11/2015), menurut penuturan salah seorang penduduk setempat yang dianggap sepuh, nama Selakopi berasal dari dua kata: sela dan kopi yang artinya di sela-sela tumbuhan kopi.
            Pernyataan di atas jika ditilik sejarahnya, kita bisa mendapat kekuatannya sebagai fakta. Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014), menjelaskan bahwa pada awal abad ke-18, dimulai pada tahun 1711, bupati Cianjur Aria Wira Tanu III mengekspor kopi ke Amsterdam setiap tahunnya dalam jumlah kisaran 100 pikul (1 pikul = 125 pon) dengan harga per pikul 50 gulden.
            Kopi yang diekspor dari Cianjur ini kemudian hari dikenal dengan sebutan Java Coffee. Apa yang lebih mengejutkan dari sepak terjang biji hitam asal Nusantara ini ialah kekuatannya yang sanggup melengserkan harga lelang kopi mocha asal Yaman yang sebelumnya merajai pasar dunia. Sayangnya, karena penguasa Persekutuan Dagang Hindia Timur (VOC) ingin mengakumulasi laba, maka diterapkanlah apa yang dikenal sebagai Preanger Stelsel atau Sistem Priangan yang mengakibatkan kemelaratan rakyat.
            Melalui elit lokal seperti menak dan santana, VOC memerintahkan rakyat untuk tidak menanam tanaman selain kopi yang akan dijual dengan harga murah ke penguasa. Terlepas dari semua itu, “biji hitam asing” – menurut penamaan orang Eropa sebelum abad ke-16 – asal Nusantara ini pernah merajai pasar kopi dunia. Kini, menurut data Tempo dalam Kopi: Aroma, Rasa, Cerita, Indonesia berada di posisi keempat terbesar dunia sebagai negara penghasil kopi setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Komentar